Cinta
memang tidak bisa diprediksi, ada yang bilang bahwa mencintai seseorang
itu tidak pernah pandang apapun,usia, status sosial, bahkan rupa,
sehingga muncullah istilah "Cinta Itu Buta" dan maksud dari buta disini
adalah bahwa perasaan itu bisa tumbuh pada siapapun, bagaimanapun
tempatnya dan dimanapun berada, bahkan ada yang bilang cinta itu jorok. (baca juga : Inilah Daftar nama Panggilan Romantis Untuk Kekasih Anda)
Tidak
jarang pula status pernikahan juga menjadi topik yang selalu berkaitan
dengan cinta, lebih tepatnya status janda atau masih perawan, secara
fisik keduanya sangat berbeda, bahkan kalau lebih jelas lagi mungkin
rasanya juga berbeda, karena kan kalau janda itu sudah pernah turun
mesin , sedangkan kalau yang perawan itu belum pernah atau masih utuh.
Nah
, jika ada seorang perjaka atau brondong yang mencintai dan bahkan
berniat menikahi seorang janda yang sudah mempunyai anak, maka itu bukan
sesuatu yang mudah, karena akan ditentang oleh keluarga dan lingkungan
terdekat, mereka pasti akan bilang "sudah habiskah
perawan di bumi ini ? kemudian "apa sanggup dan rela membiayai anak
orang lain ?"
Tidak
berhenti disitu, karena yang jelas si janda akan lebih banyak
memikirkan masa depan anaknya dibandingkan dengan urusan asmara dirinya
dengan si perjaka tersebut.
Beda
lagi ceritanya jika orang tua si janda yang membantu kehidupannya
dengan anaknya, sementara si perjakanya adalah orang miskin, pasti
hubungan itu akan semakin sulit untuk mendapatkan restu , karena orang
tua itu akan mengkhawatirkan nasib anaknya kedepannya jika harus menikah
dengan si miskin.
Ditambah
lagi ,si janda akan fokuskan perhatian pada finansial lelakinya,
sementara ketulusan dan cinta seakan diabaikan, karena anaknya akan
pasti ditanggung oleh bapak tiri yang baru , yakni si perjaka tadi.
Sanggup? Rela Gitu biayain anak orang?
Logikanya
adalah, belum apa-apa sudah berat banget tanggung jawab yang harus
dipikul oleh si jaka, dan itu sudah terbayang ketika masih
asyik-asyiknya dalam suasana cinta.
Dari
situ ada 2 sikap yang biasanya diambil oleh si perjaka, yakni mau
memperistri si janda sembari menanggung biaya anaknya, atau pelan-pelan
mundur lalu lari dari kenyataan sebagai laki-laki pengecut.
Memang
tidak bisa dipungkiri bahwa wanita itu kebanyakan memilih lelaki adalah
dengan memandang kemampuan finansialnya, apalagi itu seorang janda,
beranak pula, maka setiap tindakannya akan semakin dipenuhi dengan
perhitungan-perhitungan yang ribet dan berat bagi orang yang akan
mendekatinya, kecuali kalau janda itu sudah buta oleh cinta, menerima
keadaan calon suaminya dan berusah bersama memperbaiki kehidupan.
Akan tetapo apapun itu cara berpikirnya, yang namanya janda juga butuh dengan cinta, kasih sayang, apalagi kehangatan.
So !, jangan ragu jika kamu emang sudah yakin dengan pilihan tersebut !

