PERAN IBU DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Assalamualaikum Wr. Wb
Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita bisa hadir dalam acara peringatan
hari ibu ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Shalawat serta salam semoga
tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita
dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni agama
islam.
Hadirin yang berbahagia,
Seorang sosiolog dari Amerika Charles Horton mengatakan bahwa remaja
adalah The Agent of Change, agen perubahan, yang diharapkan mampu membawa
perubahan dalam kehidupan ini ke arah yang lebih baik. Tapi, bagaimana
mereka bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik jika akhir akhir
ini yang kita dengar adalah berita yang tidak mengenakkan berkaitan
dengan prilaku remaja.
Saat ini remaja kita menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Pasalnya
banyak problema remaja yang tak henti-hentinya mengapung ke tengah publik.
Mulai dari hal yang sederhana seperti malas belajar, tidak hormat kepada
orang tua, tawuran, ugal-ugalan di jalan raya, hingga tindakan kriminal
yang membahayakan seperti mencuri, terlibat narkoba, pergaulan bebas,
perampokan bahkan pembunuhan.
Hadirin sekalian,
Melihat semakin parahnya masalah kenakalan remaja ini, maka yang patut
kita tanyakan pada diri kita sebagai seorang wanita, sebagai seorang
ibu, adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kenakalan remaja
tersebut.
Yang pertama, ibu harus mampu berperan sebagai guru utama bagi anak
anakya.
Tidak cukup hanya di beri asupan pendidikan melaui lembaga – lembaga
formal seperti sekolah, seorang anak juga harus mendapatkan pendidikan
dari orang tuanya terutama ibunya. Oleh karena itu, seorang ibu harus
memiliki wawasan yang luas, harus melek teknologi agar dapat mendidik
anaknya dengan baik. Selain itu, Pendidikan karakter juga tidak kalah
pentingnya hadirin sekalian. Karena melalui pendidikan karakter inilah
kita bisa menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sebagai bekal
kehidupan anak kita di masa depan, sehingga mereka bisa menjadi generasi
yang tangguh yang bisa memilah dan memilih mana yang benar dan tidak.
Selain sebagai guru, seorang ibu juga harus bisa menjadi sahabat bagi
anak-anaknya terutama anak remajanya.
Di sinilah komunikasi yang baik harus di bangun antara ibu dan anak.
Karena jika ibu mampu berkomunikasi dengan baik dan mengambil hati anaknya,
maka anak kita tidak akan merasa canggung untuk menjadikan kita sebagai
sahabatnya, sebagai tempat curhatnya. Jangan sampai kesibukan kita menjadi
alasan untuk mengabaikan hak anak untuk di perhatikan. Jangan sampai
ada jarak antara ibu dan anak karena jarak ini berpotensi menjadi celah
bagi masuknya pengaruh-pengaruh negative dari luar.
Yang tak kalah pentingnya, hadirin sekalian,
Seorang ibu harus mampu berperan sebagai ulama atau tokoh agama bagi
anaknya. Peran ini memang tidak mudah namun bukan berarti seorang ibu
tidak bisa memerankannya. Dengan berusaha maksimal mempelajari agama
dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari itu sudah merupakan modal
utama bagi seorang ibu untuk menjadi teladan untuk anak-anaknya. Dengan
pendekatan agama yang menyejukkan dan nasehat yang lemah lembut dan
tidak mudah menyalahkannya, seorang anak akan mampu menerima kesalahannya
dan akan berusaha memperbaiki diri dari kenakalannya.
Hadirin yang saya hormati,
Intinya, Kunci perbaikan bangsa ini terletak pada wanita. Sebagaimana
dalam hadits disebutkan “Al Maratu imadul bilad”, wanita adalah
tiang Negara. Oleh karena itu, marilah kita menjadi tiang yang kokoh
bagi bangsa ini dengan memainkan peran kita sebagai ibu dengan sebaik-baiknya.
Sebagai seorang pendidik, sahabat dan tokoh agama bagi anak-anak kita,
sehingga pada akhirnya masalah kenalakan remaja bisa
di cegah.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kesalahan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
